Stories : Inovasi dari PT Kalbe Farma

Posted on Senin, 27 Oktober 2008 by Mossack Anme™

Kalbe Farma didirikan oleh Boenyamin Setiawan, dokter lulusan fakultas kedokteran paling bergengsi di negeri ini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dan menggondol gelar Ph.D di bidang farmakologi dari University of California, AS. Konsep nilai-nilai (values) dan budaya perusahaan apa yang mendasari keberhasilan Kalbe yang didirikan 40 tahun yang lalu dan berhasil menduduki peringkat pertama di pentas bisnis farmasi nasional. Inilah kisah bagaimana orang-orang pintar dan terbaik membangun kerajaan bisnis.

Untuk mewujudkan suatu perusahaan yang kelak menjadi perusahaan farmasi terkemuka pada awalnya Boen bersaudara mencoba menelusuri nilai-nilai apa yang ingin mereka tanamkan kepada seluruh karyawan Kalbe. Dari situlah mereka menciptakan lima falsafah Kalbe, yang tertuang dengan nama Panca Krida. Seperti apakah penjabarannya?

Pertama, terus beradaptasi dan tumbuh agar bisa bertahan. “Saya kira ini penting. Saya mengatakannya dengan mengambil contoh dari alam. Di alam kita bisa melihat pohon-pohon yang bisa hidup ribuan tahun karena terus tumbuh,” ujarnya. Ia meyakini, bila suatu makhluk berhenti tumbuh, lonceng kematian akan berbunyi.

Kedua, stakeholders juga harus ikut tumbuh dan beradaptasi. Ia memaparkan, ada 6 stakeholder di dalam lingkungan Kalbe, yakni karyawan, shareholder, pemasok, pelanggan, bankir, pemerintah dan masyarakat umum. “Itulah tujuannya kenapa perusahaan harus survive dan beradaptasi. Semata-mata untuk kepentingan para stakeholder-nya,” kata Boen berfilosofi. Filosofi yang amat segaris dengan temuan Collins dan Poras dalam bukunya, Built to Last.

Ketiga, people. “Kalau mau survive, kuncinya manusia. Ini resep paling penting,” ujarnya menandaskan. Manusia yang seperti apa? "Manusia yang DJITU," jawabnya tegas. "Ini merupakan akronim Disiplin dan Dedikasi, Jujur dan Jeli, Inovatif dan Inisiatif, Tulus dan Tanggung jawab, serta Ulet dan Unggul," katanya serius. Akronim DJITU disusun Boen 3-4 tahun setelah Kalbe berdiri. “Saya kira pakai akronim DJITU akan lebih gampang mengingatnya,” ia menambahkan.

Keempat, mengedepankan ilmu pengetahuan dan penelitian. Menurutnya, ilmu pengetahuan penting sekali. Terlebih, di industri farmasi yang sangat knowledge intensive. “Kalau lihat di Internet, dana yang dikeluarkan untuk penelitian bisa mencapai 15% dari revenue. Itu sebabnya disebut knowledge intensive industries,” ungkap Boen yang Internet minded ini. Ia menuturkan, pasar dunia untuk obat-obatan sekitar US$ 600 miliar setahun. Berarti, dana yang dialokasikan untuk kegiatan penelitian senilai US$ 90 miliar setahun. Di Indonesia, pasar obatnya hanya US$ 2,2 miliar. "Masih kecil sekali," ujarnya. Kalbe sendiri, menurutnya, mengalokasikan 2%-2,5% revenue-nya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. “Kami belum mampu seperti Pfizer yang sales-nya di seluruh dunia mencapai US$ 45 miliar. Untuk penelitian, mereka mengeluarkan dana US$ 7 miliar setahun.”
Falsafah terakhir, manajemen. “Kami menginginkan manajemen partisipatif-informatif. Menurut saya, dua-tiga kepala lebih baik daripada satu kepala. Partisipatif itu cara kerjanya selalu ramai-ramai, membuat keputusan bersama, tanggung jawab pun dipikul bersama,” kata Boen menjelaskan dengan semangat.

Di samping nilai-nilai yang tertuang dalam lima falsafah tersebut, Boen mengungkap, beberapa nilai pribadi yang dianutnya selama ini turut terbawa ke dalam budaya perusahaan seperti prinsip hidup sederhana, jangan menonjol (low profile), inovatif dan penuh dedikasi. “Ini semua nilai-nilai yang menurut saya penting,” ujarnya. Ia pun mencontohkan, 4-5 tahun lalu, dirinya menulis surat edaran ke posisi-posisi yang dinilainya basah, contohnya bagian pembelian dan pemasaran. Kepada mereka, Boen meminta supaya bersikap jujur dan tidak korupsi. Bahkan, pemasok pun dikiriminya surat agar berhenti menawarkan suap. “Mau tahu idenya dari mana? Dari Nestle dan Frisian Flag," ujarnya membuka rahasia.

Tak hanya itu. Boen juga memberi contoh langsung. “Saya dari dulu mengatakan, mesti sederhana, jangan sok-sokan. Selain itu, penting adanya kebersamaan dan keterbukaan. Dari dulu, ruang kerja saya selalu dibuka. Siapa saja yang sedang kesulitan atau ada masalah, bisa datang langsung ke saya.”

Transparansi/keterbukaan dan kerja keras yang dilakukan oleh pendiri dan jajaran managemen serta karyawan dan kerjasama yang baik dan sinergi sehingga menjadikan Kalbe Farma menjadi salah satu perusahaan farmasi terbaik di Asia Tenggara.
Banyak cerita menarik dibalik inovasi produk yang dibuat dan menjadi market leader, hal ini tidak terlepas dari budaya perusahaan yang terus di improvement & tidak terlena dengan keberhasilan yang telah dicapai selama ini. Sejak berdiri tahun 1966, jauh sebelum Blue Ocean Strategy ditulis, Kalbe Farma sudah berpedoman pada cara berpikir tersebut. Kalbe Farma selalu menempatkan produknya berbeda dari merek lain, atau bahkan dijadikan pionir di kategorinya, seperti Promag, Neo Entrostop di awal tahun 1970-an; hingga merek Fatigon, Fatigon Spirit, Prenagen, Chil-Mil, Chil-Kid, dan Deabetasol yang lahir di era 2000-an. Sehingga dalam eksistensinya, merek-merek itu selalu menonjol di belantara merek-merek sejenis.

Kemudian, Kalbe Farma selalu melakukan inovasi dan rejuvinasi agar merek-mereknya tetap segar dan terus menemukan samudra biru. Umpamanya, upaya pembaruan pada Cerebrovit, Cerebrovot, Procold, Extra Joss, dan sebagainya. Itu sebabnya, merek-merek Kalbe Farma betah menjadi pemimpin pasar di kelasnya. Dan, persis seperti ditulis Kim dan Mauborgne, jika penciptaan samudra biru tidak pernah berhenti, tidak ada pesaing yang berarti yang menghampirinya. Merek-merek itu bisa melenggang ke pasar sendirian. Mungkin, kalau ada persaingan pun tidak lagi relevan.

Simak perjalanan Fatigon yang lahir di media 1995. Produk ini meluncur dari ethical menjadi over the counter (OTC) saat pasar multivitamin sedang naik daun. Kalau hanya menggunakan perhitungan matematis, ia pasti akan lumat oleh merek-merek lain yang jumlahnya bejibun. Apalagi upaya peluncuran kembali Fatigon bersamaan dengan krisis moneter sedang menghajar bangsa Indonesia tahun 1997. Akan tetapi, tidak demikian pada Fatigon. Ia tetap eksis karena Kalbe Farma berketetapan terus beriklan, walaupun anggarannya harus dikurangi. Dibantu oleh biro iklan Dwi Sapta Advertising (DSA), Fatigon mengalihkan komunikasinya ke radio-radio daerah. Sementara iklan televisi hanya digunakan sebagai penopang. “Iklan televisi hanya kami gunakan untuk awareness bahwa ada produk yang namanya Fatigon,” kata Boedi Haryono, Manajer Merek Grup Kalbe Farma, mengilas balik perjalanan Fatigon.
Lalu, Fatigon juga tidak hanya terpaku menawarkan manfaat daya tahan tubuh dan stamina. Sebaliknya, Fatigon memosisikan diri sebagai produk multivitamin yang dapat meredakan dan mengurangi rasa lelah (capek) yang mengganggu. Kandungan kalium aspartat dan magnesium aspartat yang ada dalam Fatigon membantu menguraikan asam aspartat. “Bukankah strategi seperti itu bisa dibilang langkah samudra biru yang ada dalam buku Blue Ocean Strategy,” ujar Boedi mengenai Fatigon yang keluar dari kerumunan persaingan multivitamin.

Apa yang dilakukan oleh Kalbe Farma merupakan perwujudan dari Lima Falsafah yang telah diejawantahkan menjadi budaya perusahaan. Sehingga apa yang dilakukan perusahaan hanya bertujuan untuk memuaskan stakeholders dengan cara membuat produk yang inovatif & kreatif dan diterima di masyarakat luas.

(diolah dari berbagai sumber)

0 Responses to "Stories : Inovasi dari PT Kalbe Farma":

Labs Updates