Berinovasi atau mati! Itulah semboyan baru yang perlu kita kumandangkan di zaman penuh perubahan ini. Apa itu inovasi? Mengapa tanpa inovasi sebuah eksistensi bisa mati? Saya merumuskan inovasi sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dikonsumsi oleh masyarakat pelanggan. Nilai adalah kata kuncinya. Siapa pun Anda, apa pun organisasi Anda, kita semua dituntut oleh pelanggan atau konstituen kita untuk menyajikan seperangkat nilai yang berguna, yang atasnya kemudian kita layak mendapat nilai tukar yang sepadan dari mereka.
Nah, inovasilah proses yang membawa nilai pelanggan ini dari belum ada menjadi ada. Contoh, air mineral Aqua adalah produk inovasi Tirto Utomo kepada masyarakat Indonesia. Oleh proses yang sama pula sebuah nilai yang sudah ada (existing value) dapat diperbarui dan ditingkatkan menjadi lebih tinggi dan berkualitas. Misalnya, Alexander Graham Bell menyumbangkan nilai komunikasi bagi dunia melalui alat yang disebut telepon. Kemudian melalui sejumlah inovasi di berbagai tempat oleh berbagai orang pada berbagai fase, kini kita dapat memiliki telepon genggam multifungsi dan multiguna yang jauh lebih bernilai daripada telepon asli buatan Tuan Bell dulu. Itulah esensi inovasi.
Berhubung kehidupan adalah sebuah ajang persaingan, dalam hal ini semua orang dan organisasi selalu bersaing untuk mendapatkan kesetiaan masyarakat konsumennya, maka inovasi menjadi keharusan untuk tetap eksis dalam percaturan kehidupan. Tanpa inovasi, nilai yang kita sajikan kepada masyarakat akan ketinggalan dan usang, sehingga kehilangan nilai tukarnya sama sekali relatif terhadap sajian nilai dari pesaing. Tanpa inovasi, kita akan melemah pelan-pelan dan akhirnya bangkrut, tersisih, dan punah dari kehidupan bermasyarakat. Ini benar untuk tingkat lokal, benar pula untuk tingkat global. Ini benar untuk perusahaan, benar pula untuk jenis organisasi lain seperti yayasan, paguyuban, bahkan negara.
Runtuhnya negara-negara dan punahnya bangsa-bangsa masa lampau seperti Babylonia, Assria, Makedonia, Romawi, Sriwijaya, Majapahit, Uni Soviet dan lain-lain, pada tingkat paling fundamental dapat dipahami sebagai akibat hilangnya nilai atas eksistensi mereka. Tepatnya organisasi bangsa itu tidak dapat lagi menyajikan nilai yang bermanfaat bagi ekosistem dan konstituennya. Dari faktor benefit mereka berubah menjadi faktor parasit.
Bangkrutnya perusahaan-perusahaan juga dapat dipahami sebagai akibat tidak mampunya mereka menyajikan nilai yang menarik bagi ekosistem dan konstituennya, relatif terhadap pesaing-pesaing baru yang dibawa oleh arus perubahan. Bahkan punahnya mahluk hidup seperti mammoth dan dinosaurus juga dapat dimengerti karena mereka tak mampu lagi memberikan nilai positif bagi lingkungan hidup mereka.
Demikian juga pada tingkat individual, seseorang akan lengser dari kedudukan dan status sosialnya, manakala yang bersangkutan tidak mampu lagi menyajikan seperangkat nilai posisitif bagi konstituennya. Maka inilah nasihat sejati: Selalulah menjadi faktor berkat dan jangan pernah menjadi faktor mudarat.
Sesungguhnya keadaan di atas adalah hukum besi kehidupan yang dikenal sebagai prinsip evolusi. Intinya, makhluk hidup termasuk organisasi semua makhluk, wajib menyumbangkan nilai positif bagi ekosistem kehidupan ini, sehingga sinergi bersama dapat tercipta secara organik, dimana kelangsungan hidup bersama dapat dijamin pula. Sebaliknya, tatkala seseorang atau sebuah organisasi - sebesar dan sekuat apa pun - tak mampu lagi menyajikan sebuah nilai positif bagi kehidupan bersama, maka ia kehilangan hak alamiahnya untuk eksis. Ekosistemnya, konstituennya, pelanggannya, stakeholdernya akan menyisihkan dan meninggalkan dia.
Jadi hanya ada satu pilihan: berinovasi dan bertransformasi menjadi wujud baru dengan sajian nilai baru bagi kehidupan ini. Pilihan lain: mati dan punah dari gelangggang kehidupan.
Creating Value Through Innovation dengan demikian menjadi salah satu kompetensi terpenting yang harus dikuasai secara baik oleh individu maupun organisasi. Dan kompetensi ini kian hari kian penting saja. Lihatlah para investor yang melakukan capital outflow setahun belakangan ini karena mereka merasa tidak mendapat nilai yang sepadan dari Ibu Pertiwi yang sedang linglung. Lihatlah ribuan perusahaan di nusantara tercinta, mati bergelimpangan dengan jutaan korban karena mereka tak mampu berinovasi cukup cepat dan gesit.
Dari sudut pandang ini, sebetulnya perubahan dan krisis merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh para inovator. Sebab cara terbaik untuk maju ke depan, menyalip mereka yang sudah keenakan di depan sampai lupa diri, adalah dengan membiarkan gelombang perubahan itu menyapu mereka habis, lalu menggunakan kayuh inovasi kita mengungkit pucuk biduk kita sehingga sendirinya terangkat oleh lidah gelombang yang sama. Cantik bukan?
Jadi, bagi inovator yang waspada, krisis adalah kesempatan. Namun, bagi si kuat yang berpuas diri lagi arogan, krisis adalah kebinasaan. Berbeda dari segi hikmat Ilahi, krisis adalah transaksi keadilan. Ya, sesungguhnya Dia adil dalam semua jalan-Nya. Kiranya kita yang bertelinga segera maklum, dan yang punya tangan segera bertindak!
Steps : Creative Value through Innovation
Posted on Minggu, 23 November 2008
by Mossack Anme™
(Jansen H Sinamo)
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 Responses to "Steps : Creative Value through Innovation":
Poskan Komentar